Posts Tagged ‘puisi’

pejamkan matamu,,
bersama heningny malam
petiklah bunga mimpi
dgn jemari kelembutan
dan,,
tidurlah dgn sejuta impian,
sampai pagi kembali datang
menyapamu dgn senyuman
GOOD NIGHT n NICE DREAM yawh!!!! (lebih…)

Posted: 5 Maret 2010 in puisi
Tag:
• Weni L. Ra

Kekasih nan Biru
— catatan harian pada sebuah diari….
(dari seuntai puisi alit yang telah berdebu: ‘Kekasihku yang Tak Pernah Ada’)

Kau runtuhkan binara yang mencakar
jadi abu setelah mengobong
dalam kepulan halimun debu
ini luka yang tak terperikan
dalam diammu yang bisu
dalam cintamu yang kemu

Rinduku telah kempung
saat ia terbang dan hilang selaksana lelawa
dalam bingar kepungan awan
dan selaksa aura yang mati

Tiap penggal kenangan
: bersamamu adalah luka yang kau rancap
dengan belati ikrar
sehidup-semati!

Di manakah gemintang yang kau janjikan
jika senyap menyapa dalam gulita
jika sunyi meranggas dalam kelam
di mana, di mana
di mana gemintang itu….

Oh, Kasihku nan biru
engkau renjana yang tak pernah ada
meski hanya serupa manekin dalam angan!

Kekasih dalam Jelaga
• Weni L. Ratana

Kekasih dalam Jelaga
— catatan harian pada sebuah diari….
(dari seuntai puisi alit yang telah berdebu: ‘Kekasihku yang Tak Pernah Ada’)

Kekasih, ada satu cinta untukmu
di sana, ya di sana!
dalam reken hari-hari yang menanggal
ia tetap reksa, meski desau rindu meracau
dalam goda nan birahi

Sesungguhnya ia telah menjelma patung
kala pentotal ikrarmu mengeradiksi
lalu membuatnya mati dalam kepayang

Tak terbersitkah seiba pada hatimu
bahwa ia telah melewati serangkai palagan
demi satu asa
: bersamamu adalah renjana indah
namun kini telah menjelma jingga nila
dan membunuhnya dalam diam

Asmara telah penyap
dari paduk semula janji
sosokmu babur dalam gelimun halimun jelaga
dan cinta hanya bagai bayang-bayang semu….

Kekasih dan Jingga Kenangan
• Weni L. Ratana

Kekasih dan Jingga Kenangan
— catatan harian pada sebuah diari….
(dari seuntai puisi alit yang telah berdebu: ‘Kekasihku yang Tak Pernah Ada’)

Ada sepasang layang-layang
yang pernah kau terbangkan
kala angin mendesau sebelum gerimis
: ingatkah, lak nan rapuh
telah mengoyaknya saat mengangkasa

Lalu ia benar-benar boyak oleh air hujan
tak lama berselang, dan kita pongah dalam uras
: biarkan saja, demikian katamu
lalu kita sama-sama ketawa seperti gila,
sebab rinai nan satu satu adalah tirai ajaib
yang turun oleh lara airmata dewi
yang menangis didera asmara

Tak kita peduli lagi layang-layang yang jamah bumi
dalam cumbu nirkaru dengan tanah
seonggok sobekan menjelma kolumela
di antara kolimasi dan tirai-tirai patah
dan tak lama membusuk dalam selokan

Sesal jadi tak berarti
: sebab sauh mata pada banglas langit
adalah ambal dan mafela
yang mengelabu oleh indah gemawan

Namun cinta tak selamanya indah
seperti layang-layang yang ruyak
serupa hering tak bersayap
patah dalam penantian

Kasih, tanpamu
: aku menjelma pesakit tanpa eliksir
tidakkah kau dengar raung suaraku
yang membentur dinding gawir
dan tiap sebentar mengentropi
dari satu sisi hati ke sisi lainnya
: energi ini telah mati!

Kasih, tanpamu
penantian ini merupakan kenangan yang menjingga dan lesi….

Di Atas Ranah Cinta
• Weni L. Ratana

Gemerincing adalah pepontoh dari sekati emas
kaki mungil nan menggelinjang
adalah tarian satir para dewi
Langit muram, dan gemawan adalah pelupuk berairmata
di sini, cinta tak lagi rancak
ketika halimun menjelma gergasi

Dahulu terhampar pengharapan
seperti sebentang katifah dari Negeri Seribu Dongeng
dan Lelaki adalah kupu-kupu ungu
yang menari ditabuh genderang angin

Menangislah dedewi
karena cinta melantak dalam deru
: pias pasinya adalah rahim getir
yang melahirkan seribu katik dan kastal palsu

Di atas ranah cinta, kala
permadani tak lagi indah dalam kerontang kemarau
kupu-kupu bersayap patah dalam onggok mati
dan renjana tinggal sepenggal kenangan shepia
tak bermakna apa-apa

Cinta memang masif di ranah ini
dan ratap dedewi hanya menambah giris malam….